Nadia Alatas “Mengenal Passion Itu Perlu”

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia > Berita > Nadia Alatas “Mengenal Passion Itu Perlu”

Nadia Alatas, Direktur PT Cybertrend Intrabuana Indonesia, merupakan alumni Fasilkom UI angkatan 1990. Sebelum menjadi Direktur di perusahaannya sekarang, Nadia memulai karier dari Staf IT di PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo), Manajer di PT Satelit Nusantara, dan Chief Operating Officer di PT Jatis Solutions Ecom.

Tahun 2020, beliau meraih penghargaan sebagai pemenang kategori Innovation pada ajang Women in ICT Awards 2020. Women in ICT Awards 2020 adalah sebuah penghargaan yang diinisiasi oleh Channel Asia dan diberikan kepada tokoh perempuan hebat ASEAN dalam lima kategori, yaitu The Technical award; The Achievement award; Region; The Innovation award; dan The Community award.Perjalanan karier yang cemerlang dari Nadia tentu menyimpan berbagai cerita inspiratif yang bisa dipelajari bersama.  Berikut cuplikan wawancara Tim BitMagz dengan Nadia Alatas.

Ketika akan lulus, apakah Ibu Nadia sudah memiliki gambaran mengenai apa yang akan dilakukan setelahnya?

Dulu sebelum saya lulus, saya berpikir untuk menjadi seorang profesional di bidang Teknologi Informasi (TI). Saya berkeyakinan, seperti yang saya pelajari juga selama kuliah, kalau TI dalam sebuah perusahaan atau organisasi seharusnya tidak hanya menjadi Electronic Data Processing atau sekadar Cost Center saja. Jadi hanya menjadi organ pendukung sistem saja, bukan menjadi bagian yang penting.Saya percaya, TI bisa menjadi business enabler yang lebih berguna bagi sebuah organisasi maupun perusahaan. Dengan kepercayaan dan visi seperti itu, saya memutuskan untuk terjun ke dalam tempat yang memosisikan TI atau teknologi sebagai organ utama. Itu juga yang menjadi alasan mendasar saya dalam meniti karier di PT Satelit Palapa Indonesia, perusahaan pertama yang saya masuki dalam dunia profesional.

Ibu Nadia memutuskan untuk masuk ke sebuah perusahaan setelah lulus. Apakah ini sesuai dengan passion Ibu?

Iya, tentu saja. Sejalan dengan apa yang saya utarakan sebelumnya, menurut saya perusahaan, khususnya perusahaan TI merupakan tempat belajar ideal yang pertama bagi saya untuk mengembangkan diri di dunia TI. Terkait dengan passion, tentu ini sudah sesuai dengan apa yang saya inginkan dan cita-citakan. Kalau boleh cerita, waktu sekolah (SMA) dahulu, saya suka sekali dengan mata pelajaran Matematika dan Fisika. Di saat harus memilih jurusan di perguruan tinggi, saya tidak ingin mengambil jurusan Matematika atau Fisika murni. Di era saya, di tahuan 1990an, Komputer (Fasilkom UI) masih baru. Mungkin baru berjalan sekitar 5 tahun. Saya melihat Fasilkom UI masih menawarkan pelajaran yang saya minati dengan tambahan kemampuan praktikal yang sangat berguna. Saya suka, makanya saya ambil Fasilkom UI waktu itu.

Bisa diceritakan perjalanan karier Ibu dan bagaimana Ibu Nadia menemukan passion Ibu dalam pekerjaan?

Saya mengawali karier saya di PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo) yang kini diakusisi oleh Indosat. Satelindo di eranya adalah perusahaan penyedia layanan GSM pertama di Indonesia. Sesuai dengan saya sampaikan sebelumnya, saya ingin masuk perusahaan yang mengutamakan teknologi dan TI. Satelindo ini tempat yang pas. Di sana, mulanya saya ditawari langsung menjadi System Analyst. Tapi saya tolak. Akhirnya saya mengawali karier dengan menjadi staf TI di Satelindo. Saya memilih menjadi staf TI dulu, sebab saya merasa perlu belajar dari awal sekali, tidak langsung loncat tanpa mengerti pondasinya terlebih dahulu. Saya jadi ingin berpesan pada lulusan-lulusan muda zaman sekarang. Belajar hal-hal dasar dari sebuah perusahaan atau bisnis itu penting. Jika dalam kasus saya, saya bekerja di bidang TI,, maka programming menjadi hal penting yang perlu dipelajari dengan seksama. Baru setelahnya bisa naik tingkat ke analis dan semacamnya. Di Satelindo, proyek pertama yang saya pegang adalah membangun billing system. Ini merupakan inti dari pekerjaaan di bidang TI. Itu juga yang saya rasakan menjadi bekal yang sangat utama bagi saya hingga sekarang. Setelah di Satelindo, saya pindah ke PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN). Di sini saya bekerja sebagai Manajer Pengembangan TI dan Operasional. PT PSN bergerak di bidang pengembangan aplikasi berbasis satelit. Di perusahaan sebelumnya, umumnya aplikasi, perangkat lunak, dan konten dibeli dari luar negeri. Di PT PSN, saya dan tim mengembangkan semuanya dari dalam negeri. Tidak ada yang membeli dari luar. Jadi, PTN PSN ini lebih mirip seperti perusahaan konsultan TI yang ada di dalam negeri. Dua tahun di sana saya pindah ke Jatis. Kebetulan di sana saya dipercaya mengepalai Divisi Telekomunikasi, divisi baru di sana. Selain Telekomunikasi, ada Divisi Ritel, Keuangan, dan Perbankan di Jatis. Dibandingkan dua perusahaan sebelumnya yang lebih ke arah user, di Jatis saya rasa lebih banyak menjadi konsultan atau business partner. Sebagai seseorang yang bertanggung jawab untuk presales, saya berkewajiban memeriksa secara teknis solusi yang ditawarkan kepada klien sebelum dijual kepada mereka. Divisi ini berkembang dengan sangat cepat. Akhirnya Jatis memutuskan untuk melakukan spin off divisi Telekomunikasi menjadi anak perusahaan yang diberi nama Jatis Solusi Ecom. Di situ saya menjadi Chief Operating Officer. Belajar dari perusahaanperusahaan ini kemudian saya berpikiran, mengapa tidak membangun sendiri? Barulah setelah itu saya dan beberapa rekan di tahun lalu ( 2 0 1 1 ) memutuskan untuk membangun PT Cybertrend Intrabuana Indonesia. Saat ini PT Cybertrend sudah cukup berkembang, sudah ada sekitar kurang lebih 30 orang di dalamnya. Pengalaman saya selama berkarier ini kemudian menyadarkan saya, kalau saya memang punya minat yang tinggi di bidang IT Consulting, sebab saya suka saat mengerjakannya. Kemudian, saya juga orang yang sangat mencintai Indonesia. Saat mendirikanperusahaan ini, saya juga berpikir, kalau misal saya hanya maju secara perorangan, tidak akan dilihat secara luas, makanya perusahaan ini ada. Saya punya komitmen untuk memajukan Indonesia, karena saya tahu Indonesia memiliki sumber daya berkualitas yang tidak kalah dengan negara-negara maju lainnya khususnya di bidang TI. Sebenarnya saya merasa agak terlambat menyadari passion saya ini. Harusnya saya sudah menggerakkan ini dari 3 atau 4 tahun lalu sebab di saat itulah wajah industri TI di Indonesia mengalami perubahan. Sekarang, dunia TI Indonesia lebih berorientasi pada layanan yang tentu sangat berbeda dengan tahuntahun sebelumnya. Ini adalah kesempatan bagi saya.

Karier Ibu Nadia sangat cemerlang. Kami boleh tahu apa rahasianya?

Ada beberapa nilai yang selalu saya pegang.

Pertama, servis yang baik adalah untuk semua orang. Saya selalu mengutamakan layanan yang prima, tidak hanya pada klien tapi juga pada subordinate yang ada di lingkungan kerja. Saya ingin menciptakan suasana kerja yang nyaman dan menyenangkan. Saya senantiasa berpikirkalau kebahagiaan,  siapapun, kapanpun, di mana pun  adalah milik semua oran.

Kedua, jangan terlalu memikirkan gaji atau reputasi sebuah perusahaan sebelum bekerja di dalamnya. Kenali dulu apa yang diminati (passion) baru masuk ke perusahaan. Jangan memikirkan gaji dulu. Saya percaya, jika kita passionate dengan apa yang kita kerjakan, kita suka atau bahkan cinta dengan pekerjaan tersebut, maka gaji yang cukup dan kebahagiaan itu keniscayaan. Semua orang akan senang. Perusaahan gembira karena performanya meningkat di pasar, orangorang dekat kita senang, dan yang paling penting, kita sendiri bisa bahagia.

Selama berkuliah dan bekerja, apa yang menurut Ibu Nadia menjadi pelajaran terbesar?

Mungkin saya akan bercerita tentang apa yang saya ketahui dan rasakan ketika kuliah dulu. Dari pengalaman saya berkuliah di Fasilkom UI, mayoritas mahasiswanya menghabiskan waktu belajar dan berada di depan komputer atau laptop mengerjakan tugas Mereka jarang sekali bersosialisasi atau melihat dunia luar. Ini menurut saya yang perlu diubah. Mahasiswa, termasuk Fasilkom UI, perlu untuk melihat dunia luar. Dengan berorganisasi, atau berkumpul dengan temanteman dari lain fakultas akan sangat membantu  Selain tentunya perlu untuk terus mengamati kemajuan teknologi yang ada supaya tidak ketinggalan Ini yang saya sesali. Dulu saya kebanyakan belajar. Jadi tidak kenal siapa-siapa. Membangun network (jaringan pertemanan) itu perlu sekali. Saya cukup terlambat dengan memulainya setelah berkecimpung di dunia kerja. Jaringan yang kita punya saat kuliah bisa sangat membantu kita nanti. Tidak hanya untuk pengembangan bisnis, bila kita memiliki bisnis sendiri, tetapi juga akan meningkatkan kekerabatan ketika semua lulus nanti.

Menurut Ibu Nadia, apakah keuntungan bagi lulusan baru yang memilih berkarier di perusahaan?

Perusahaan merupakan tempat yang tepat bagi lulusan baru untuk menimba ilmu yang lebih praktis. Jika ada di antara kalian yang berangan-angan memiliki bisnis suatu hari nanti, saya rasa perlu untuk mencicipi bekerja di dunia profesional. Toh, kalau memutuskan berbisnis tanpa punya dasardasar yang kuat sama saja.

Apakah rencana ke depan Ibu Nadia?

Saya tertarik di dunia pendidikan. Saya suka belajar, mengajar, atau memberikan pelatihan kepada orang lain. Saat ini saya sedang mempersiapkan diri untuk membangun institusi pendidikan milik saya dan beberapa rekan. Hitung-hitung sebagai investasi akhirat juga. Selain i tu saya pun ber tekad mengembangkan bisnis ini (PT Cyber trend Citrabuana) sekaligus mengharumkan nama baik Indonesia di mata dunia. Sekarang saya tengah menjajaki kemungkinan bermitra dan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Barat khususnya negara Eropa, seperti Jerman. Pasar Eropa setelah dilanda krisis menjadi sangat potensial untuk digarap, sambil menunjukkan kepada dunia kalau Indonesia memiliki sumber daya yang berkualitas.

Fasilkom UI harus tetap semangat! Fasilkom UI merupakan institusi dengan awak yang handal dan kreatif. Dengan metode pembelajaran Fasilkom UI yang berkualitas tinggi, saya percaya Fasilkom UI mampu mempersiapkan kalian, para mahasiswa, untuk mewujudkan impian-impian kalian menjadi kenyataan. Universitas Indonesia khususnya Fasilkom UI merupakan pintu gerbang terbaik yang akan mengantarkan kalian ke dunia kerja profesional yang sebenarnya. Saya merasa terhormat bisa menjadi bagian dari Universitas Indonesia dan Fasilkom UI. Saya harap Fasilkom UI bisa terus bertumbuh dengan pesat ke depannya.

Ref: https://www.channelasia.tech/article/683671/channel-asia-women-ict-awards-2020-winners/?pp=2