Jakarta, Fasilkom – Kontingen Indonesia kembali menorehkan prestasi di panggung internasional melalui ajang International Olympiad on Artificial Intelligence (IOAI) 2026 yang berlangsung di Kazakhstan. Indonesia berhasil membawa pulang empat medali, terdiri dari satu emas, dua perak, dan satu perunggu.
Medali emas diraih Luvidi Pranawa Alghari dari SMAS Pribadi Beji. Sementara itu, Matthew Hutama Pramana dari SMAS Kolose Loyola Semarang dan Nicholas Ardi Tirta dari SMAS Santa Laurensia Alam Sutera masing-masing meraih medali perak. Adapun medali perunggu diraih Avner Maxwell Lim dari BTB School Pluit.
Pencapaian tersebut menjadi catatan penting bagi perkembangan talenta kecerdasan buatan (AI) Indonesia, terutama karena IOAI merupakan kompetisi yang menuntut peserta untuk tidak hanya memahami konsep AI, tetapi juga mampu menganalisis persoalan dan membangun solusi berbasis teknologi tersebut.
Keberhasilan empat pelajar Indonesia ini tidak terlepas dari proses seleksi dan pembinaan yang berlangsung bertahap sejak 2025. Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) menjadi salah satu institusi yang berperan penting dalam proses tersebut, baik melalui penyediaan fasilitas untuk pelatihan dan seleksi maupun keterlibatan dosen sebagai pembina dan pemateri.
Muhammad Febrian Rachmadi, Ph.D., Team Leader Indonesia untuk IOAI 2026 sekaligus dosen Fasilkom UI, menjelaskan bahwa perjalanan delegasi Indonesia dimulai dari Ekshibisi Kompetisi Kecerdasan Artifisial (EKKA) 2025 yang diselenggarakan bersamaan dengan Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025 di Universitas Muhammadiyah Malang.
Deputy Team Leader/Observer Indonesia, Adila Alfa Krisnadhi, Ph.D., mengatakan peran Fasilkom UI dalam rangkaian tersebut ialah dalam penyediaan tempat untuk proses seleksi dan pelatnas serta keterlibatan dosen dalam pembinaan peserta.
Selain itu, terdapat akademisi dari IPB, ITB,UGM dan MBZUAI yang turut mendukung proses pembinaan. Dukungan juga datang dari TOKI dan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).
Peran tersebut didukung tim pembina yang melibatkan Muhammad Febrian Rachmadi (Fasilkom UI), Mushthofa (IPB), Alfan F. Wicaksono, Ikhsanul Habibie, Laksmita Rahadianti (Fasilkom UI), Masayu Leylia Khodra (ITB), Rifki Afina Putri (UGM), Dina Chahyati (Fasilkom UI), dan Adila Alfa Krisnadhi (Fasilkom UI).
Pembinaan juga diperkuat oleh para asisten coach, yakni Nyoo Steven IK21, Faiz Rizki Ramadhan (MBZUAI), Belati Jagad Bintang Syuhada IK22, Faiz Assabil Firdaus IK23, Jaycent IK21, Eduardus T. IK21, Darren Aldrich IK23, dan Anders IK23. Selain itu, dukungan datang dari TOKI melalui Adi Mulyanto (ITB), Brian Marshall, Dewi Yuliani, dan Ammar Fathin Sabili, serta Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) RI sebagai bagian penting dalam penyelenggaraan dan pembinaan kontingen Indonesia.
Bukan sekadar kompetisi AI
Prestasi empat pelajar Indonesia di Kazakhstan juga menunjukkan bahwa kompetisi AI membutuhkan fondasi ilmu komputer yang kuat. Adila menekankan, peserta tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menggunakan perangkat AI generatif.
“Kalau ini sebenarnya syaratnya yang pertama dasar ilmu komputer atau dasar informatika, jadi yang paling utama itu. Karena mereka harus banyak bikin implementasinya,” ujar Adila.
Dalam pandangan Febrian, kemampuan yang paling menonjol dari peserta Indonesia adalah kemampuan analisis dan abstraksi masalah. Kompetensi tersebut memungkinkan peserta mencari cara untuk menyelesaikan persoalan menggunakan berbagai metode machine learning, deep learning, dan artificial intelligence.
Karena itu, proses latihan dan simulasi menjadi bagian penting dalam pembinaan. Menurut Febrian, simulasi kompetisi diperlukan untuk mengukur sejauh mana kesiapan peserta menghadapi kompetisi sebenarnya.
Tantangan membina talenta AI
Di balik prestasi tersebut, proses pembinaan tidak berlangsung tanpa tantangan. Febrian mengatakan, salah satu kendala utama adalah waktu pelatnas secara luring yang relatif singkat, khususnya pada Pelatnas 2 dan Pelatnas 3.
Menurutnya, pelatnas secara luring memiliki nilai penting karena memungkinkan komunikasi, diskusi, dan pemecahan masalah dilakukan secara langsung di bawah pengawasan pembina dan asisten pembina. Tantangan lainnya adalah pembinaan AI yang harus dimulai dari dasar pada Pelatnas 1. Materi yang diberikan mencakup probabilitas dan statistika inferensi hingga berbagai model machine learning.
Adila juga menilai fondasi informatika menjadi bekal utama bagi pelajar yang ingin mengembangkan kemampuan AI. “Nah, jadi memang informatika harus, dasar informatikanya itu harus dimiliki dulu, baru kemudian belajar dasar AI-nya,” ujarnya.
Selain penguasaan teknis, Febrian menilai kemauan untuk terus mempelajari hal baru menjadi modal penting bagi pelajar. Kemampuan pemrograman menggunakan Python untuk AI juga diperlukan. Bahkan ketika IOAI 2026 menggunakan large language model (LLM) sebagai coding assistant, kemampuan dasar informatika tetap menjadi fondasi utama.
Mendorong AI menjadi bidang yang lebih populer
Prestasi di Kazakhstan juga diharapkan menjadi pemicu berkembangnya minat pelajar Indonesia terhadap AI. Adila mencatat, minat terhadap kompetisi AI menunjukkan potensi yang besar. Seleksi EKKA 2026 yang terbuka secara nasional, misalnya, diikuti sekitar 2.300 peserta.
Bagi Febrian, saat ini, AI masih dianggap sebagai topik lanjutan dalam pembelajaran di Fasilkom UI. Dengan hadirnya kompetisi AI di tingkat nasional, regional, dan internasional, ia berharap AI menjadi bidang yang semakin familiar bagi masyarakat luas.
“Dengan hadirnya kompetisi AI tingkat nasional, regional, dan internasional, kami harapkan AI bukanlah menjadi topik atau hal yang aneh atau alien, tapi menjadi sesuatu yang umum untuk dipelajari,” kata Febrian.
Prestasi yang perlu diikuti penguatan ekosistem
Pengalaman di Kazakhstan sekaligus memperlihatkan bahwa prestasi internasional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu peserta. Ekosistem kompetisi dan pembinaan di tingkat nasional dan regional juga memainkan peran penting.
Febrian mencontohkan Rusia yang memiliki beberapa lapis kompetisi nasional dan regional sehingga proses seleksinya mampu menjaring talenta-talenta terbaik di bidang AI. Menurutnya, Indonesia patut berbangga karena mampu bersaing di IOAI 2026 dengan negara-negara yang memiliki infrastruktur AI dan ekosistem kompetisi yang lebih maju.
Karena itu, capaian satu emas, dua perak, dan satu perunggu di Kazakhstan tidak semestinya berhenti sebagai pencapaian empat individu. Prestasi tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat jalur pembinaan talenta AI secara lebih luas.
Adila berharap kompetisi ini dapat mendorong semakin banyak siswa mempelajari materi AI, meskipun pada akhirnya hanya empat peserta yang berkesempatan mewakili Indonesia di ajang internasional.
“Harapannya adalah dengan kompetisi ini bisa mendorong untuk semakin banyak siswa yang ikut, semakin banyak siswa yang mempelajarinya,” ujar Adila.
Menurutnya, manfaat kompetisi tidak hanya dirasakan oleh mereka yang akhirnya menjadi delegasi Indonesia. Peserta yang mengikuti proses seleksi sejak tahap awal tetap memperoleh kesempatan untuk mempelajari dasar-dasar AI dan mengembangkan kemampuan mereka.
Sementara itu, Febrian berharap EKKA yang pada 2025 dan 2026 masih berstatus sebagai ekshibisi dapat menjadi bidang resmi OSN pada 2027. Dengan demikian, semakin banyak peserta didik dari berbagai wilayah Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan AI. Ia juga menilai ekosistem kompetisi AI di luar OSN perlu terus diperkuat agar peserta Indonesia semakin kompetitif di ajang internasional pada tahun-tahun mendatang.
Capaian kontingen Indonesia di IOAI 2026 dengan demikian bukan hanya menjadi catatan empat medali dari Kazakhstan. Di balik itu terdapat proses panjang seleksi, pelatihan, simulasi, kolaborasi lintas perguruan tinggi, serta dukungan TOKI dan Puspresnas. Lebih jauh, prestasi ini menjadi sinyal bahwa talenta AI muda Indonesia memiliki potensi untuk bersaing di tingkat dunia, dengan catatan ekosistem pembinaan dan kesempatan belajar terus diperluas.

