IRoS Lab Fasilkom UI Dorong AI untuk Robotika, Kesehatan, hingga Pendidikan

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia > People Stories > IRoS Lab Fasilkom UI Dorong AI untuk Robotika, Kesehatan, hingga Pendidikan

Kecerdasan buatan (AI) tidak lagi sebatas teknologi yang bekerja di balik layar. Di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI), teknologi tersebut dikembangkan untuk terhubung langsung dengan sistem fisik melalui Intelligent Robots and Systems (IRoS) Lab. Laboratorium riset ini mengembangkan sistem robotik cerdas yang mampu membaca data dari sensor, menganalisis kondisi, hingga menentukan tindakan secara mandiri.

Aprinaldi Jasa Mantau, Ph.D.Eng., dosen sekaligus peneliti Fasilkom UI mengatakan laboratorium tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa dan dosen yang ingin mengembangkan AI sekaligus menerapkannya pada perangkat fisik.

“Jadi IRoS itu singkatan dari Intelligent Robots and Systems, lab riset kami di Fakultas Ilmu Komputer UI. Sederhananya, kami fokus mengembangkan sistem robotik yang cerdas, bukan cuma robot yang bergerak sesuai program yang kaku, tapi yang bisa mengambil keputusan sendiri berdasarkan data yang dia tangkap dari sensor sensornya,” ujar Aprinaldi.

Menurutnya, riset di IRoS tidak berhenti pada pengembangan model AI, tetapi diarahkan untuk menyelesaikan persoalan nyata melalui drone, sensor, perangkat medis, hingga sistem berbasis citra. Situs resmi IRoS mencatat fokus laboratorium mencakup pengembangan sistem robotik cerdas, termasuk sistem sensor multimodal, analisis data untuk pengambilan keputusan, serta sistem aktuator robotik dinamis.

Riset IRoS saat ini terbagi dalam sejumlah bidang, mulai dari robotika, biomedis, remote sensing dan surveillance, hingga life and social sciences. Pada bidang robotika, salah satu proyek yang dikembangkan adalah swarm drone untuk misi pencarian dan penyelamatan, pemetaan, serta pemantauan lingkungan. Ada pula riset reinforcement learning untuk pengambilan keputusan otonom.

Di bidang kesehatan, IRoS mengembangkan antara lain AI untuk mendeteksi gagal jantung, segmentasi citra jantung dan otak, serta penilaian kualitas embrio untuk teknologi reproduksi berbantu. Sementara pada remote sensing, riset diarahkan untuk mendeteksi kerusakan bangunan pascabencana, pemetaan lahan pertanian, hingga analisis citra satelit.

Aprinaldi menilai pemilihan topik riset tersebut tidak terlepas dari persoalan yang dihadapi Indonesia. “Kita ini negara rawan bencana, jadi riset deteksi kerusakan bangunan itu langsung berkaitan dengan respons darurat pasca gempa atau banjir. Kita juga negara agraris, makanya ada riset pemetaan lahan pertanian.”

AI, lanjut dia, menjadi komponen utama dalam sistem yang dikembangkan. “AI itu ibaratnya otaknya. Robot atau drone tanpa AI cuma bisa bergerak sesuai skrip yang kaku.” Teknologi computer vision digunakan untuk mengenali objek dari citra medis, citra satelit, maupun kamera drone, sedangkan reinforcement learning memungkinkan sistem mempelajari strategi pengambilan keputusan secara mandiri.

Dari berbagai proyek tersebut, swarm drone menjadi salah satu riset yang paling menantang secara teknis. Sistem harus mampu mengoordinasikan banyak drone agar dapat saling menghindari, membagi tugas, dan tetap efisien di lingkungan dinamis. Namun, dari sisi dampak sosial, Aprinaldi melihat AI tutor untuk anak-anak Indonesia memiliki potensi yang sangat besar.

“Kalau riset ini bisa matang, dampaknya bisa jauh lebih luas dibanding proyek robotika yang sifatnya lebih niche,” katanya.

Meski demikian, pengembangan teknologi robotika dan AI di Indonesia masih menghadapi tantangan. Aprinaldi menyebut mahalnya perangkat seperti sensor LIDAR, drone kelas industri, serta kebutuhan komputasi GPU menjadi kendala. Ketersediaan dataset lokal berkualitas juga masih terbatas.

Di sisi ekosistem, tantangan lainnya adalah membawa hasil riset kampus menjadi produk yang benar-benar digunakan. “Dari sisi ekosistem, tantangannya lebih ke bagaimana riset kampus bisa naik kelas jadi produk yang benar benar dipakai industri atau pemerintah, karena jalur hilirisasi itu masih panjang,” ujar Aprinaldi.

Dibandingkan Jepang, Korea Selatan, atau Amerika Serikat, Indonesia juga masih tertinggal dari sisi skala industri dan pendanaan riset. Namun, menurut Aprinaldi, Indonesia memiliki keunggulan dari sisi relevansi masalah. Riset yang dikembangkan dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan spesifik Indonesia, seperti mitigasi bencana dan pertanian.

Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, IRoS menargetkan riset yang saat ini masih berupa prototipe atau simulasi dapat diterapkan secara nyata. “Drone untuk mitigasi bencana yang betulan dipakai badan penanggulangan bencana misalnya, atau alat bantu diagnosis medis yang terintegrasi ke puskesmas puskesmas di daerah,” kata Aprinaldi.

Bagi mahasiswa yang ingin terlibat, IRoS secara berkala membuka kesempatan sebagai asisten riset. Aprinaldi menyebut kemampuan dasar yang dibutuhkan antara lain pemrograman Python dan pemahaman deep learning menggunakan PyTorch atau TensorFlow. Namun, menurutnya, kemampuan teknis bukan satu-satunya modal.

“Yang paling penting sebenarnya rasa penasaran dan kemauan belajar hal baru, karena riset kami memang lintas domain,” tuturnya.