Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial dalam Pelestarian Badak Jawa

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia > Campus News > Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial dalam Pelestarian Badak Jawa

Depok, 28 Januari 2026 — Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) menggelar Seminar Reboan 2026 Episode 1 bertajuk Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial dalam Penyelamatan Badak Jawa: Kondisi Terkini, Peluang, dan Tantangan di Ruang Sidang Gedung Baru lantai 4. Kegiatan ini menjadi forum diskusi akademik lintas disiplin yang membahas peran teknologi, khususnya kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), dalam upaya konservasi salah satu spesies paling langka di dunia, Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus).

Seminar ini menghadirkan Ardi Andono, S.TP., M.Sc., Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon sekaligus Promovendus S3 Kehutanan Universitas Gadjah Mada, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Bapak Ardi menekankan bahwa penyelamatan Badak Jawa tidak lagi dapat dilepaskan dari pemanfaatan teknologi. Menurutnya, pemburu satwa liar telah lama memanfaatkan teknologi secara canggih, sehingga upaya perlindungan kawasan konservasi juga harus selangkah lebih maju.

Kondisi Terkini Badak Jawa

Saat ini, populasi Badak Jawa hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon. Spesies ini telah dinyatakan punah di Vietnam sejak 2011, menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya negara yang memegang tanggung jawab global atas kelestariannya. Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis populasi, jumlah Badak Jawa diperkirakan berada pada kisaran 87–97 individu.

Namun, tantangan besar masih membayangi. Salah satu ancaman utama adalah inbreeding depression akibat rendahnya keragaman genetik. Dari hasil penelitian DNA terhadap lebih dari 60 individu, diketahui hanya terdapat dua haplotype utama. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan daya hidup populasi dalam jangka panjang apabila tidak segera dilakukan intervensi. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap kondisi tersebut adalah kecenderungan betina untuk memilih penjantan yang secara fisik dan perilaku dianggap lebih dominan.

Selain itu, Badak Jawa juga menghadapi ancaman penyakit, termasuk parasit darah dan cacing usus, serta tekanan lingkungan akibat keterbatasan habitat dan invasi spesies asing pada area pakan (feeding ground).

Tantangan Pengelolaan dan Monitoring

Dalam pengelolaan kawasan, Balai Taman Nasional Ujung Kulon masih mengandalkan sistem monitoring manual dengan ratusan kamera jebak (camera trap) yang harus diambil secara berkala langsung dari lapangan. Proses ini membutuhkan biaya besar dan tenaga yang tidak sedikit, dengan total anggaran tahunan mencapai lebih dari satu miliar rupiah hanya untuk pengumpulan data.

Di sisi lain, pemburu semakin adaptif dan mampu mengidentifikasi lokasi kamera jebak, bahkan memanfaatkan data yang tersimpan untuk melacak pergerakan satwa. Kondisi ini menunjukkan perlunya sistem pengawasan yang lebih cerdas, adaptif, dan berbasis teknologi real-time.

Peluang Pemanfaatan AI dan IoT

Bapak Ardi memaparkan bahwa Taman Nasional Ujung Kulon sebenarnya memiliki arsip data visual dan audio yang sangat besar, mulai dari foto analog sejak awal 1990-an hingga data digital dan kamera real-time saat ini. Ribuan foto dan video tersebut menyimpan potensi besar untuk dikembangkan dengan dukungan kecerdasan artifisial, baik untuk membantu identifikasi individu Badak Jawa secara otomatis, menganalisis perilaku serta pola pergerakannya, hingga memperkirakan usia dan kondisi kesehatan satwa tanpa intervensi langsung. Selain itu, pemanfaatan AI juga diharapkan mampu mendukung deteksi dini aktivitas pemburu melalui sistem peringatan dini (early warning system) yang lebih responsif dan akurat.

Namun, pemanfaatan AI di kawasan konservasi menghadapi tantangan tersendiri, seperti keterbatasan infrastruktur, minimnya SDM teknologi di lapangan, kondisi alam yang ekstrem, serta keterbatasan pendanaan yang berkelanjutan.

Kolaborasi Lintas Disiplin

Melalui seminar ini, Fasilkom UI membuka ruang kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan praktisi konservasi. Bapak Ardi menyampaikan harapannya agar universitas, termasuk Fasilkom UI, dapat berperan aktif dalam mengembangkan solusi berbasis AI dan teknologi digital yang sesuai dengan kondisi lapangan di Ujung Kulon.

Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya terbatas pada riset, tetapi juga pengembangan sistem, penyusunan proposal pendanaan bersama, serta keterlibatan mahasiswa dan peneliti dalam kegiatan lapangan. Dengan pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan ilmu komputer, biologi, kehutanan, dan kedokteran hewan, upaya penyelamatan Badak Jawa diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Di akhir pemaparannya, Ardi menegaskan bahwa penyelamatan Badak Jawa bukan hanya tanggung jawab pengelola taman nasional, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bangsa. “Kalau kita gagal, maka kita termasuk bangsa yang gagal menyelamatkan Badak Jawa.” ujarnya.