Seminar Reboan 2026 Eps. 4: Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Services

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia > Campus News > Seminar Reboan 2026 Eps. 4: Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Services

Depok, 1 April 2026 — Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) kembali menyelenggarakan kegiatan Seminar Reboan 2026 Episode 4. Seminar ini mengangkat topik “Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Services” yang disampaikan oleh narasumber Prof. Dr. Putu Wuri Handayani. Kegiatan ini dimoderatori oleh Vektor Dewanto, S.T., M.Eng., Ph.D secara luring di Aula Indro Suwandi, Fasilkom UI, serta daring melalui platform Zoom.

Seminar ini dihadiri oleh lebih dari 90 peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap isu pemanfaatan teknologi untuk mendukung layanan kesehatan penderita stroke. Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Dekan Fasilkom UI, Prof. Dr. Eng. Wisnu Jatmiko, yang menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan untuk menampilkan berbagai penelitian internal yang dikembangkan di Fasilkom UI. Ia juga menyoroti salah satu penelitian yang dipresentasikan, yaitu karya Prof. Dr. Putu Wuri Handayani yang melibatkan kolaborasi antara Indonesia dan Australia, sebagai contoh nyata penguatan kerja sama riset internasional.

Turut hadir dalam kegiatan ini sejumlah dosen Fasilkom UI, antara lain Dr. Panca Hadi Putra, Dr. Baginda Anggun Nan Cenka, Dr. Puspa Indahati Sandhyaduhita, Prof. Harry Budi Santoso, serta Dr. R. Yugo Kartono Isal, yang turut aktif dalam sesi tanya jawab. Acara juga dipandu oleh Shabrina Salsabila Kurniawan, M.Kom., selaku pembawa acara.

Prof. Dr. Putu Wuri Handayani kemudian memaparkan hasil penelitiannya yang berfokus pada pengembangan ekosistem komunitas daring untuk membantu penyintas stroke dan para pengasuh dalam mengakses layanan kesehatan. Ia menjelaskan bahwa penelitian ini merupakan kolaborasi internasional yang melibatkan empat universitas, termasuk kerja sama antara Indonesia dan Australia. Salah satu luaran utama dari penelitian ini adalah pengembangan aplikasi yang ditujukan untuk masyarakat di wilayah dengan angka kejadian stroke tinggi seperti Manado dan Gorontalo, yang juga memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.

Dalam pemaparannya, Prof. Putu menjelaskan bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan multidisiplin yang melibatkan bidang informatika, antropologi medis, serta ilmu kesehatan. Metodologi penelitian dilakukan melalui purpose sampling dengan mempertimbangkan aspek inklusi gender, disabilitas, dan sosial. Penelitian ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari penyintas stroke, keluarga sebagai pengasuh, komunitas keagamaan, hingga mitra transportasi berbasis aplikasi, serta regulator kesehatan dan rumah sakit di wilayah penelitian.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya aspek etika dalam penelitian, termasuk proses perolehan persetujuan etik dari lembaga terkait seperti BRIN dan institusi masing-masing peneliti. Penelitian ini melibatkan total 188 responden dari Gorontalo, Manado, dan Jakarta, dengan metode triangulasi melalui wawancara, observasi, dan lokakarya co-design. Melalui tiga tahap lokakarya, tim peneliti berhasil mengidentifikasi kebutuhan pengguna serta mengevaluasi prototipe aplikasi yang dikembangkan.

Pengembangan aplikasi dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai tantangan di lapangan, seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, jumlah tenaga medis yang terbatas, serta dominasi penggunaan BPJS Kesehatan oleh pasien. Oleh karena itu, aplikasi dirancang berbasis web agar dapat diakses secara luas melalui berbagai perangkat. Fitur yang dikembangkan mencakup edukasi terkait gejala dan pencegahan stroke, layanan telekonsultasi, pengingat pengobatan, pencarian fasilitas kesehatan, serta forum diskusi komunitas.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pengguna membutuhkan fitur komunikasi yang lebih intensif dengan tenaga medis serta ruang berbagi pengalaman antar pengguna. Untuk itu, aplikasi dilengkapi dengan notifikasi berbasis WhatsApp, forum motivasi, serta konten edukasi dalam bentuk video berdurasi singkat yang dilengkapi dengan takarir agar lebih inklusif.

Prof. Putu juga mengungkapkan bahwa pengembangan aplikasi berbasis komunitas ini dipilih karena belum adanya solusi serupa yang sesuai dengan konteks lokal. Proses pengembangan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memahami kebutuhan pengguna secara mendalam. Ke depan, penelitian ini direncanakan akan diperluas ke negara lain seperti Vietnam dan Malaysia, serta diuji coba di berbagai puskesmas di Indonesia untuk meningkatkan partisipasi dan dampak bagi masyarakat.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta dan dosen, termasuk mengenai strategi meningkatkan partisipasi responden serta tantangan implementasi di lapangan. Kegiatan Seminar Reboan Episode 4 ini diharapkan dapat memperkaya wawasan sivitas akademika dalam mengembangkan riset yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pemanfaatan teknologi untuk sektor kesehatan.