Depok – Hasil penelitian dan pengetahuan akademik dinilai tidak cukup hanya berhenti di jurnal ilmiah maupun konferensi. Agar dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) mendorong dosen dan mahasiswa mengembangkan karya akademik menjadi buku yang lebih mudah diakses publik.
Dorongan tersebut disampaikan Prof. Harry Budi Santoso, S.Kom., M.Kom., Ph.D., Manajer Riset, Inovasi, Pengabdian Masyarakat, dan Kemitraan Akademik Fasilkom UI, dalam Pelatihan Penulisan Buku Akademis/Buku Ilmiah Fasilkom UI yang digelar secara hybrid pada 12–13 Agustus 2026.
Dalam sambutannya, Prof. Harry mengatakan penyebarluasan pengetahuan tidak semestinya hanya menyasar kalangan akademisi. Menurut dia, masyarakat umum juga memiliki hak untuk mengetahui berbagai penelitian dan pengembangan pengetahuan yang dilakukan perguruan tinggi.
Beliau menjelaskan, konferensi dan jurnal ilmiah pada dasarnya memiliki audiens yang relatif terbatas. Peserta konferensi umumnya berasal dari kalangan akademisi, sementara sejumlah jurnal ilmiah juga menerapkan akses berbayar sehingga tidak selalu mudah dijangkau masyarakat luas.
“Jadi masyarakat juga berhak mendapatkan informasi tentang apa yang kita sedang lakukan, teliti,” katanya.
Karena itu, Prof Harry menilai buku menjadi salah satu medium penting untuk menjembatani pengetahuan akademik dengan masyarakat. Buku dinilai dapat mengemas hasil penelitian dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan dipelajari oleh pembaca di luar lingkungan akademik.
Dari Penelitian hingga Disertasi Bisa Menjadi Buku
Prof Harry mengatakan sumber materi untuk penulisan buku akademis sebenarnya tersedia cukup banyak di lingkungan perguruan tinggi. Selain hasil penelitian, pengalaman akademisi selama menjalankan kegiatan pendidikan dan penelitian juga dapat dikembangkan menjadi bahan buku.
Menurut Prof Harry, salah satu potensi yang kerap belum dimanfaatkan secara optimal adalah karya ilmiah mahasiswa, khususnya tesis dan disertasi.
Beliau mencontohkan praktik di sejumlah perguruan tinggi luar negeri yang menjadikan disertasi sebagai salah satu sumber penerbitan buku. Karya ilmiah yang telah melalui proses akademik dapat dikembangkan kembali agar memiliki format dan pendekatan yang sesuai untuk pembaca buku.
“Di Amerika, di Inggris ada misalnya London School of Economics itu biasanya disertasinya dipublikasikan,” ujar Prof. Harry.
Menurutnya, mengubah karya ilmiah menjadi buku juga memberikan pengalaman membaca yang berbeda. Disertasi dan buku memiliki karakter serta cara akses yang tidak sama, sehingga pengembangan karya ilmiah menjadi buku dapat memperluas jangkauan pengetahuan yang sebelumnya tersimpan dalam dokumen akademik.
Prof. Harry juga menyinggung kegiatan pameran buku karya dosen dari berbagai fakultas UI yang berlangsung di area Makara. Menurut dia, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa produktivitas akademisi dalam menghasilkan buku perlu terus didorong.
“Harapannya makin banyak ya dosen dan mahasiswa yang menerbitkan buku dan harapannya apa yang kita lakukan di kampus itu lebih bisa didengar lagi oleh masyarakat,” katanya.
Pelatihan Penulisan Buku Akademis/Buku Ilmiah Fasilkom UI sendiri dirancang selama dua hari dengan pendekatan interaktif dan aplikatif. Berdasarkan agenda Fasilkom UI, peserta mendapatkan materi mengenai signifikansi penulisan buku akademis, perbedaan buku ajar dan buku teks, anatomi dan standar penulisan, hingga konversi RPS menjadi struktur buku ajar.
Peserta juga diarahkan menyusun matriks atau ragangan buku, mempraktikkan penulisan satu bab, melakukan swasunting, serta mendapatkan reviu dan evaluasi hasil tulisan. Pelatihan menghadirkan Bambang Trimansyah, S.S., M.I.Kom., Master Tutor Institut Penulis Profesional Indonesia, yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di industri penulisan dan perbukuan.
Di akhir sambutannya, Prof Harry berharap peserta dapat memanfaatkan pelatihan untuk mulai mengembangkan gagasan yang sudah dimiliki menjadi naskah buku.
“Kami berharap banyak hal yang nanti teman-teman bisa pelajari dari Pak Bambang. Syukur-syukur ada yang sudah punya draft, ya jadi tinggal effort untuk bisa jadi buku,” tuturnya.
Bagi Fasilkom UI, langkah tersebut bukan sekadar meningkatkan jumlah publikasi dalam bentuk buku. Lebih jauh, penerbitan buku menjadi bagian dari upaya membawa pengetahuan yang lahir dari kampus keluar dari ruang akademik sehingga hasil penelitian dan pemikiran para akademisi dapat dipahami serta dimanfaatkan oleh masyarakat yang lebih luas.


