Depok, 9 Juni 2026 — Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) melanjutkan rangkaian hari kedua kegiatan Intensive Course on Analysis of the Impact of Wind Power Plants on Radar Systems yang berlangsung di Ruang Kelas A1.54, Gedung Baru Fasilkom UI. Kegiatan yang menghadirkan Jan Pidanič, Ph.D. dari Faculty of Electrical Engineering and Informatics, University of Pardubice, Republik Ceko ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta peserta umum dari berbagai institusi.
Setelah pada hari pertama peserta memperoleh pengenalan mengenai sistem radar dan konteks penelitian yang dilakukan di University of Pardubice, hari kedua difokuskan pada pembahasan yang lebih teknis mengenai parameter radar, pemrosesan sinyal, serta karakteristik turbin angin sebagai objek yang terdeteksi oleh radar.
Pada sesi ini, Jan Pidanič menjelaskan bagaimana sistem radar mengukur jarak suatu objek menggunakan sinyal elektromagnetik. Peserta diperkenalkan pada konsep-konsep dasar seperti parameter radar, persamaan radar (radar equation), proses pengambilan sampel sinyal (sampling), matched filtering, serta hubungan antara bandwidth dan resolusi radar. Materi tersebut menjadi landasan penting untuk memahami bagaimana radar dapat mendeteksi dan membedakan objek pada jarak yang berbeda.
Dalam pembahasannya, ia juga menjelaskan arsitektur dasar radar primer yang digunakan untuk mengukur posisi objek berdasarkan jarak, azimut, dan elevasi. Peserta diperkenalkan pada berbagai jenis tampilan radar yang umum digunakan, seperti B-scope, C-scope, dan Plan Position Indicator (PPI), yang sering ditampilkan dalam film maupun media hiburan. Melalui visualisasi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai cara membaca informasi yang ditampilkan oleh sistem radar serta bagaimana data radar digunakan untuk mendukung proses pemantauan dan navigasi.
Memasuki materi berikutnya, Jan Pidanič membahas turbin angin sebagai salah satu objek yang dapat memengaruhi performa radar. Ia menjelaskan struktur utama turbin angin yang terdiri atas menara (tower), rumah mesin (nacelle), hub, dan baling-baling (blades). Peserta juga mempelajari bagaimana ukuran dan geometri turbin angin dapat menghasilkan pantulan radar yang kompleks, termasuk fenomena Doppler yang muncul akibat pergerakan baling-baling.
Dalam sesi tersebut dijelaskan bahwa sebagian besar turbin angin modern menggunakan tiga baling-baling karena konfigurasi tersebut dinilai paling efektif dalam menghasilkan energi sekaligus menjaga stabilitas operasional. Selain itu, peserta diperkenalkan pada fenomena radar masking yang dapat terjadi ketika keberadaan turbin angin mengganggu kemampuan radar dalam mendeteksi objek lain di sekitarnya.
Jan Pidanič juga menyoroti kondisi Indonesia yang relatif memiliki jumlah turbin angin lebih sedikit dibandingkan negara-negara di Eropa. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi keuntungan dalam proses perencanaan dan optimasi tata letak turbin angin agar tidak mengganggu cakupan radar. Sebaliknya, di beberapa negara Eropa yang memiliki konsentrasi turbin angin lebih tinggi, tantangan terkait gangguan radar menjadi lebih kompleks..
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara pengembangan energi terbarukan dan teknologi radar, serta berbagai solusi yang dapat diterapkan untuk mendukung keduanya secara berkelanjutan.


