Depok, 30 April 2026 — Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) menyelenggarakan sesi lanjutan pelatihan kesehatan mental bertajuk “Ragam Masalah Psikologi dan Pemahaman Dasar Konseling” di Ruang Sidang Lantai 4 Gedung Baru Fasilkom UI. Kegiatan ini dihadiri oleh dosen dan staf Fasilkom UI sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan pemahaman serta kemampuan menghadapi isu kesehatan mental di lingkungan akademik.
Kegiatan menghadirkan Ika Malika, M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber. Sesi dibuka dengan refleksi dari pertemuan sebelumnya, di mana peserta diminta mengingat kembali materi yang telah dipelajari, khususnya terkait Psychological First Aid (PFA). Sementara itu, peserta yang baru bergabung juga menyampaikan ekspektasi mereka, seperti harapan untuk dapat bersikap lebih bijak ketika menghadapi situasi yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Dalam pemaparannya, Ika Malika menjelaskan mengenai depresi sebagai kondisi yang berbeda dari sekadar perasaan sedih atau murung. Ia menekankan bahwa depresi dapat dialami oleh siapa saja, dengan ciri utama berupa gejala yang berlangsung lebih dari dua minggu dan mengganggu fungsi sehari-hari, seperti kehilangan minat, gangguan tidur, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, hingga perasaan tidak berharga dan putus asa.
Selain itu, dibahas pula mengenai kecemasan sebagai respons alami terhadap situasi yang dianggap mengancam. Kecemasan dijelaskan sebagai mekanisme adaptif yang membantu individu tetap waspada. Namun, Ika Malika juga menyoroti perbedaan antara kecemasan yang dapat meningkatkan performa (facilitating anxiety) dan kecemasan yang justru mengganggu (debilitating anxiety). Ia turut menjelaskan perbedaan antara rasa cemas dan takut, serta membedakan kecemasan normal dengan gangguan kecemasan.

Topik lain yang diangkat adalah Non-Suicidal Self Injury (NSSI), yaitu perilaku melukai diri sendiri tanpa adanya niat untuk bunuh diri. Dalam konteks ini, peserta diberikan pemahaman mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk membantu individu yang mengalami kondisi tersebut, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan validasi, serta mendorong untuk mencari bantuan profesional.
Sesi berlangsung interaktif melalui berbagai kegiatan simulasi. Peserta diajak memilih gambar yang merepresentasikan perasaan mereka saat melakukan konseling, kemudian menjelaskan maknanya. Selain itu, dilakukan pula simulasi peran, di mana peserta bergantian menjadi pihak yang membutuhkan bantuan dan pihak yang memberikan dukungan. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih empati dan keterampilan komunikasi dalam situasi nyata.
Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab serta foto bersama. Melalui pelatihan ini, diharapkan dosen dan staf Fasilkom UI dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai isu kesehatan mental serta mampu memberikan dukungan awal yang tepat di lingkungan kerja dan akademik.


